Jika Anda Tidak Mau Rugi Jauhi 2 Jenis Bisnis Ini




Sekian banyak tawaran bisnis menghampiri, sebagian tak membuat berminat, sebagiannya cukup menarik, dan sebagiannya lagi sangat menggiurkan. Yang perlu diwaspadai adalah, ada diantara penawaran penawaran tersebut yang kulitnya menguntungkan, tapi dalemannya sangat merugikan bahkan menyakitkan. Bukan sekedar kerugian berupa uang, tapi hubungan persaudaraan, persahabatan seringkali rusak gara-gara bisnis yang menggiurkan ini.

Nah, dengan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang ada pada saya, setidaknya ada dua jenis bisnis atau penawaran yang harus kita jauhi.  


1.   Monkey Bisnis

Langsung saja saya kasih gambarannya ya..

Suatu hari di sebuah desa, seorang yang kaya raya mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp50.000 per ekor.

Padahal, monyet disana sama sekali tak ada harganya karena jumlahnya yang banyak dan kerap dianggap sebagai hama pemakan tanaman buah-buahan.

Para penduduk desa yang menyadari bahwa banyak monyet disekitar desa pun kemudian mulai masuk hutan dan menangkapinya satu per satu.

Si orang kaya membeli ribuan ekor monyet dengan harga Rp50.000. Karena penangkapan secara besar-besaran, akhirnya monyet-monyet semakin sulit dicari. Penduduk desa pun menghentikan usahanya untuk menangkapi monyet.

Si orang kaya sekali lagi kembali mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp100 ribu per ekor.

Penduduk desa pun kembali bergairah untuk menangkapi monyet. Tak berapa lama, jumlah monyet pun semakin sedikit. Dari hari ke hari monyet makin langka, makin sulit dicari. Penduduk pun kembali beraktivitas seperti biasanya, yaitu bertani.

Karena monyet kini telah langka, harga monyet pun meroket naik hingga Rp150 ribu per ekor. Tapi tetap saja, monyet sudah sangat sulit dicari.

Sekali lagi, si orang kaya mengumumkan kepada penduduk desa bahwa ia akan membeli monyet dengan harga Rp500 ribu per ekor!

Namun, karena si orang kaya harus pergi ke kota untuk urusan bisnis, asisten pribadinya akan menggantikan sementara kegiatan "bisnis monyet" ini.

Sang sisten pun berkata pada penduduk desa: "Lihatlah monyet-monyet yang ada di kurungan besar yang dikumpulkan oleh si orang kaya itu. Saya akan menjual monyet-monyet itu kepada kalian dengan harga Rp350 ribu per ekor. Dan saat si orang kaya kembali, kalian bisa menjualnya kembali ke beliau dengan harga Rp500 ribu. Bagaimana?"

Akhirnya, penduduk desa pun mengumpulkan uang simpanan mereka dan membeli semua monyet yang ada di kurungan.

Namun, tragisnya, penduduk desa yang sudah membeli monyet dengan harga 350-ribu dan berharap bisa menjualnya Rp500 ribu, harus gigit jari: Mereka tak pernah lagi melihat si orang kaya maupun si asisten di desa itu!

Contoh yang pernah saya saksikan adalah bisnis Tokek. Dimana pada titik tertentu, pencari tokek tiba-tiba tidak ada lagi, sementara tokek tokek sudah banyak dibeli mahal oleh pebisnis-pebisnis yang terjebak dalam jebakan monkey bisnis ini, dan tak tau harus menjualnya kemana. Akhirnya keuntungan yang tak kunjung didapat itu pun berakhir pada tertumpuknya barang yang tak pernah ada lagi pembelinya. Saat itu banyak rekan-rekan kerja saya yang ikut dirugikan dengan jebakan monkey bisnis pada bisnis tokek yang mereka jalankan. Selain jual beli tokek  memang diharamkan itu, mereka terjebak dalam system bisnis yang tak disangka sangka perangkapnya.

2. Skema Ponzi

Skema Ponzi adalah modus investasi palsu yang membayarkan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau uang yang dibayarkan oleh investor berikutnya, bukan dari keuntungan yang diperoleh oleh individu atau organisasi yang menjalankan operasi. Skema Ponzi biasanya membujuk investor baru dengan menawarkan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan investasi lain, dalam jangka pendek dengan tingkat pengembalian abnormal yang tinggi atau luar biasa konsisten. Kelangsungan dari pengembalian yang tinggi tersebut membutuhkan aliran yang terus meningkat dari uang yang didapat dari investor baru untuk menjaga skema ini terus berjalan. (dikutip dari Wikipedia)

Skema ini biasa dijalankan dalam bisnis MLM, money game, arisan berantai, member get member, dan juga belakangan ini bisnis real juga mulai menjalankan skema ini untuk mendapatkan keuntungan atau modal bisnis.

Arisan berantai yang sempat memanas beberapa waktu lalu adalah MMM. Dimana investor menyetor sejumlah uang, dan dalam 35 hari ke depan uangnya kembali plus 30% dari jumlah uang yang disetor. Misal hari ini setor 1juta, maka 35 hari ke depan akan kembali menjadi 1jt300rb rupiah.

Darimana 30%nya ini? persen tersebut didapat dari investor berikutnya. Sehingga kebutuhan sekarang, ditutupi oleh anggota berikutnya. Dan begitu seterusnya. Investasi semacam ini mengharuskan untuk mendapatkan dana yang selalu bertambah di setiap periodenya. Sekarang terkumpul 10juta, maka 35 hari ke depan harus sudah terkumpul lagi setidaknya 13 juta untuk memenuhi janji 30% tersebut, dan periode berikutnya harus terkumpul jauh lebih banyak lagi, dan sampailah pada titik dimana jumlah dana kurang dari yang dibutuhkan. Biasanya pembayaran mulai telat, alasan teknis ini itu dijadikan alasan. Sampai akhirnya kondisi sulit sudah tak terbendung, tak memungkinkan lagi untuk mengembalikan dana yang belum terbayar, maka perusahaan menghilang. 


Dalam bisnis real juga bisa diterapkan sistem ponzi ini. Seperti travel umroh yang baru baru ini merugikan banyak jamaahnya. Jamaah tak jadi berangkat karena travelnya tak ada kabar. Dengan iming-iming harga super murah bahkan sampai harga yang tidak realistis, membuat masyarakat tertarik untuk umroh bersama mereka. Pada kloter-kloter awal, jamaah benar-benar berangkat.

Bagaimana mereka bisa berangkat dengan harga tak masuk akal tersebut? Skema Ponzi bermain di sini. Dimana kloter pertama berangkat dengan dana mereka yang super murah itu, ditambah dengan dana yang sudah disetor oleh kloter ke dua. Begitu seterusnya sampai dana dari calon jamaah semakin terkumpul, lalu travel tersebut menghilang.  Atau Skema Ponzi tidak diterapkan kepada jamaah, tapi diterapkan kepada investor. Jadi jangan pernah tergiur oleh travel haji atau umroh yang murah banget ya. Harus diteliti ulang, atau ikut yang jelas-jelas aja deh. Kalau perlu cari travel yang dijalankan oleh orang yang Anda kenal kesehariannya.

Skema ini juga pernah dijalankan oleh pebisnis supplier. Berdasarkan cerita dari seorang kawan, bahwa saudaranya pernah menjalankan skema ini. Saat bisnisnya berjalan lancar, supply dari produsen, dan tagihan kepada klien lancar cairnya, uang melimpah, gaya hidup meningkat, manajeman keuangan perusahaan mulai goncang karena banyak uang terpakai untuk menutupi gaya hidup. Akhirnya tiba pada saat klien meminta barang, pebisnis tersebut tak lagi bisa mendapatkan supply dari supplier pertama dikarenakan hutang-hutang dia kepada supplier pertama  belum dilunasi. Mau tak mau pebisnis supplier ini harus bisa mencari dana cepat, untuk bisa melunasi hutang-hutangnya ke supplier pertama agar bisa disupply kembali sesuai orderan klien.

Gencarlah dia mencari dana dari saudara, rekan kerja, dan siapa saja yang memiliki modal, dengan iming-iming uang akan kembali dalam waktu singkat dengan keuntungan yang lumayan serta pasti. Tak jarang bahasa tolong menolong, atau bantu membantu digunakan dalam penawarannya untuk menarik simpati calon investor.  Setelah banyak yang tergiur, dan dana terkumpul, dia harus mencari dana lagi untuk memenuhi janjinya kepada para pemodal tadi. Dilakukanlah cara pertama tadi kepada calon pemodal berikutnya. Dan begitu seterusnya sampai akhirnya sampai pada titik dimana hal tersebut tak lagi bisa dijalankan, atau pada batas yang membuat silau mata si pebisnis, sehingga memilih membawa kabur dana tersebut dan menghilang tanpa kabar.  Yang awalnya diberi nama investasi tolong menolong, ternyata berakhir menjadi investasi bodong. Dana yang tak cuma segentong itu pun akhirnya tak tertolong.

Yang cukup mengherankan adalah, kebanyakan skema Ponzi ini sifatnya seperti menyilaukan bahkan membutakan mata. Pebisnis garis lurus pun tak jarang pada akhirnya termakan dengan tawaran tawaran tersebut. Dan anehnya, uang yang diinvestasikan seringkali tidak disertai surat tanda terima, atau perjanjian yang jelas. Sehingga pada saat merasa dirugikan, investor tak bisa menuntut apa-apa karena tak ada bukti bahwa uangnya telah diserahkan dalam investasi tersebut.

Dan banyak bisnis yang bisa saja menjalankan skema ini. Sehingga kita perlu waspada dan teliti ketika ditawari investasi bisnis real sekalipun telah berjalan lancar sekian tahun. Cek dan ricek, bagaimana dia menjalankan bisnisnya, cari tahu pula kondisi perusahaannya, cari tau kenapa dia mencari modal, apakah karena sedang berada di masa sulit atau benar-benar ada bisnis bagus yang butuh kerjasama, cek dan ricek surat surat perjanjian, laporan laporan tagihan serta apa saja yang bisa kita cek sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam sebuah bisnis.

O iya, dua jenis jebakan di atas, tak akan nampak pada sebagian orang sampai kerugian menghampiri. Sehingga penting untuk bisa saling nasehat menasehati, ingat mengingatkan tatkala kita mengetahui ada saudara, atau rekan kita yang sepertinya tergiur dengan tawaran tawaran mencurigakan. Terlebih lagi jika tawaran-tawaran tersebut lebih dahulu disambut oleh orang-orang berpengaruh seperti Pak RT, Kakak yang dituakan, dll karena hal tersebut akan berdampak pada ikut terpengaruhnya orang-orang di bawah mereka. Tentu kita tak ingin saudara kita dirugikan, sebagaimana diri kita juga tak ingin dirugikan.

Sekian tulisan berantakan ini saya persembahkan, semoga bisa menjadi catatan untuk diri pribadi, dan bisa bermanfaat untuk banyak orang. Bisa saja banyak kesalahan dalam penjelasan saya di atas, oleh karena itu butuh koreksi dari para pembaca agar bisa segera saya luruskan.

NB : Tulisan ini tidak berarti mengatakan setiap investasi atau bisnis yang menarik atau menggiurkan adalah investasi bodong. Sama sekali saya tidak bermaksud demikian. Maksud saya adalah agar muncul kehati-hatian dan ketelitian sebelum memutuskan.

Hary Kurniawan

Sumber :
Wikipedia
Kisah nyata seorang kawan
Contohblog dot com
Share on Google Plus

About Percetakan Okasha

Sebuah wadah yang isinya kumpulan manusia yang hari-hari makanannya adalah pusing dan lelah, memikirkan ide-ide segar, dan juga memberikan hasil yang harus memuaskan pelanggan yang berkaitan dengan urusan desain grafis dan juga cetak-cetaknya.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment